Liga Italia

Juventus Hat-Trick Scudetto Juara Serie A

Berita Bola – Juventus Juara Serie A Liga Italia 2013/2014 (Scudetto), kesuksesan ini merupakan yang ketiga secara berturut-turut atau hat-trick! Kekalahan mengejutkan AS Roma di markas Catania lewat skor 4-1, menghadirkan momen bersejarah. Apalagi kalau bukan kepastian juara Liga Italia Serie A 2013/14, yang diraih Juventus untuk kali ketiga  secara beruntun, Minggu (4/5) petang WIB.

Dengan Tim Serigala yang tinggal menyisakan dua di Serie A, jurang delapan poin dari Si Nyonya Tua di puncak klasemen sudah tak mungkin lagi terkejar. Juve bahkan tidak diharuskan meraih poin melawan Atalanta, dini hari nanti, untuk memastikan gelar ke-30 atau ke-32 mereka di atas lapangan.

Sejak awal musim Tim Hitam-Putih memang jadi favorit utama peraih scudetto musim ini. Selain berstatus juara bertahan untuk dua musim beruntun, secara perkasa tim asuhan Antonio Conte terus memuncaki klasemen sejak giornata ke-13!

Hambatan Roma yang brilian lewat sepuluh kemenangan beruntun di sepuluh giornata pertama, tak jadi masalah. Dengan masih menyisakan tiga laga, Juve bahkan bisa mencetak sejarah sebagai tim pertama Serie A yang bisa menyentuh angka 100 poin, mengalahkan rekor FC Internazionale dengan 97 poin di musim 2006/07.

Meski kembali gagal di level Eropa, kedigdayaan Juve di Italia musim ini jelas dipengaruhi oleh beberapa faktor pembeda.

 
Kedalaman Skuad
Kedalaman skuat yang dimiliki oleh Antonio Conte bisa disebut sebagai faktor utama keunggulan Juventus, dibanding peserta Serie A lainnya. Bagaimana tidak, 14 dari 24 pemain yang didaftarkan dalam kompetisi merupakan penggawa Si Nyonya Tua yang mengawali hat-trick scudetto di musim 2011/12.

Nama-nama lawas macam Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Andrea Pirlo, bahkan Mirko Vucinic paham benar caranya keluar ketika berada dalam situasi sulit. Satu hal yang berkebalikan dengan para pengancam mereka, seperti AS Roma, Napoli, FC Internazionale, juga AC Milan yang bongkar pasang skuat dalam dua musim terakhir.

Tambahan kualitas yang berasal dari juara Liga Champions, Carlos Tevez, serta juara Piala Eropa dan Dunia, Fernando Llorente, begitu kentara dampaknya. Jangan lupakan pula lonjakan performa yang ditunjukkan Martin Caceres, Muaricio Isla, dan Il Polopo Paul Pogba.

Transfer Jitu
ika diakumulasikan, musim ini manajemen Juventus “hanya” menghabiskan dana sebesar 28,03 juta saja. Bandingkan dengan AS Roma yang mengeluarkan bujet sebanyak 64,58 juta, atau Napoli yang jor-joran dengan €88,61 juta. Sang juara bahkan tidak melebihi dana FC Internazionale ala Erick Thohir yang mengucurkan uang 40,56 juta, namun gagal menempati pos Liga Champions.

Pemain gratisan namun brilian, itulah filosofi seorang guru transfer baru milik Juve, Beppe Marotta. Dibantu oleh aura kebintangan Pavel Nedved, mereka sukses mendatangakan tuah pemain gratisan tersebut dalam wujud Fernando Llorente.

Bersama Carlos Tevez yang juga hanya direkrut dengan harga €7,9 juta, mereka berdua adalah jawaban masalah akut Juve dalam empat musim terakhir. Ya, lini depan! Musim ini kombinasi keduanya sukses menghadirkan 34 gol untuk I Bianconeri di Serie A!

Juventus Stadium
uah satu-satunya stadion yang dimiliki secara pribadi oleh klub di Italia ini benar-benar nyata. Bahkan tidak pernah sebaik musim ini, di mana si empunya kandang, Juventus, belum pernah kalah sekalipun baik di Italia bahkan Eropa!

Rekornya menakjubkan karena Gigi Buffon cs sukses memetik 21 kali kemenangan dengan hanya empat hasil seri di seluruh kompetisi yang diikuti musim ini. Namun Anda semua pasti tercengang jika kita mengerucutkannya hanya untuk kompetisi Serie A saja. Secara luar biasa La Vecchia Signora menyapu bersih 17 partai kandang yang sudah digelar dengan kemenangan!

Juventini — yang biasa disebut sebagai pemain ke-12 — dipastikan jadi people of the match setiap kali Juve bermain di J Stadium. Layaklah jika predikat angker kini disematkan untuk J Stadium, mengingat La Vecchia Omcidi baru menderita tiga kekalahan sepanjang sejarah pemakaian.

t
Menang di Partai Krusial
Di Serie A 2013/14 Juventus tercatat jadi satu-satunya tim yang selalu berhasil meraih kemenangan atas tim anggota ll Sette Magnifico. Hal itu semakin menegaskan bahwa mereka memang pantas menjadi raja di Italia dalam tiga musim terakhir.

Jika dikerucutkan, salah satu kunci Juve dalam meraih hat-trick scudetto musim ini adalah kesuksesan mereka menang atas dua pesaing utama, Roma dan Napoli, di pertemuan pertama. Hebatnya kedua tim dibantai lewat skor identik 3-0! Suatu hasil yang sangat berefek pada mental lawan untuk terus bersaing.

Tak hanya menang atas tim-tim pesaing dan tradisional, kemenangan krusial juga diraih kala menjamu klub yang di atas kertas ada di bawah mereka. Ya, Juve nyaris tak pernah terpelset musim ini. Torehan 12 kemenangan beruntun pasca kalah 4-2 dari Fiorentina di giornata delapan jadi gambaran nyata!

Non MVP Ma PVP
Non MVP Ma PVP atau dalam terjemahannya, bukan lagi MVP melainkan PVP. Seperti diketahui sebelumnya, MVP merujuk pada singkatan trio gelandang andalan Juve dalam kurun waktu 2011 hingga 2013, yakni Marchisio-Vidal-Pirlo.

Namun sesuai prediksi di awal musim ini, melonjaknya performa seorang bocah Prancis, Paul Pogba, ternyata bisa menyingkirkan sang Pangeran Turin, Claudio Marchisio, dari starting XI. Kini paham baru dicuatkan media Italia dengan menggantinya menjadi PVP, yang artinya Pogba-Vidal-Pirlo.

Kombinasi ketiganya sungguh berarti krusial bagi kesuksesan La Fidanzata d’Italia. Total 22 gol dan assist jadi sumbangsih kombinasi ketiganya. Meski begitu, Marchisio tak lantas disingkirkan. Peran Il Principe tetap penting dari bangku cadangan karena ia adalah pengganti sempurna trio PVP.